PANGKAL PINANG — Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BKPSDMD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar Webinar Seri 10 dengan tema "Gap Generasi ASN dari Perbedaan Menjadi Kekuatan: Membangun Kolaborasi Lintas Generasi ASN Babel", Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk memahami perbedaan karakteristik antargenerasi sekaligus mengoptimalkannya sebagai kekuatan dalam membangun birokrasi yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan publik.

Kepala BKPSDMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dora Wardani, menegaskan bahwa perbedaan generasi dalam organisasi pemerintahan merupakan kenyataan yang perlu dikelola secara konstruktif. Menurut dia, keberagaman usia, pengalaman, pola pikir, dan kebiasaan kerja tidak semestinya menjadi sumber sekat, melainkan peluang untuk memperkuat sinergi dan meningkatkan kapasitas organisasi.

“Perbedaan bukanlah persoalan utama. Persoalan muncul ketika kita tidak mampu memahami, menghargai, dan mengelola perbedaan tersebut. Kita tidak boleh membangun sekat antara generasi senior dan generasi muda, tetapi harus membangun jembatan yang memungkinkan setiap generasi saling belajar dan saling menguatkan,” ujar Dora.

Ia menjelaskan, ASN senior memiliki pengalaman, pemahaman terhadap dinamika birokrasi, serta pengetahuan praktis yang terbentuk melalui perjalanan pengabdian. Sementara itu, ASN generasi muda membawa perspektif baru, penguasaan teknologi digital, dan keberanian untuk mencoba pendekatan kerja yang inovatif. Kedua kekuatan tersebut perlu dipertemukan agar organisasi mampu menjawab tantangan pemerintahan yang semakin kompleks.

Dora menilai, tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang cepat, mudah, transparan, responsif, dan berkualitas mengharuskan birokrasi terus beradaptasi tanpa kehilangan fondasi pengalaman dan integritas. Pengalaman masa lalu tetap relevan sebagai sumber pembelajaran, sedangkan inovasi diperlukan untuk menemukan cara kerja yang lebih efektif. Karena itu, organisasi pemerintahan membutuhkan keseimbangan antara kebijaksanaan, keterbukaan, disiplin, dan kemampuan menghadapi perubahan.

“Pengalaman perlu dipadukan dengan inovasi. Kebijaksanaan perlu berjalan bersama keterbukaan. Disiplin dan integritas perlu diperkuat dengan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan,” kata Dora.

Untuk mewujudkan kolaborasi tersebut, ia menyoroti tiga hal utama, yakni komunikasi yang saling menghargai, budaya belajar dua arah, dan kesamaan tujuan organisasi. Komunikasi yang terbuka memungkinkan pegawai menyampaikan gagasan serta menerima kritik secara konstruktif. Adapun budaya belajar dua arah membuka kesempatan bagi ASN senior untuk berbagi pengalaman, etika birokrasi, dan pengetahuan organisasi, sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk berbagi keterampilan digital, pemanfaatan data, serta pendekatan baru dalam pelayanan publik.

Dora juga mendorong penguatan mekanisme pembelajaran bersama melalui mentoring, reverse mentoring, berbagi pengetahuan, dan pembentukan tim kerja lintas generasi. Pendekatan ini dinilai penting agar transfer pengetahuan tidak berjalan satu arah, tetapi menjadi proses timbal balik yang memperkaya kompetensi pegawai dan menjaga keberlanjutan pengetahuan organisasi.

Menurut Dora, keberhasilan kolaborasi lintas generasi turut ditentukan oleh kepemimpinan dan budaya kerja yang inklusif. Para pimpinan perangkat daerah, pejabat administrator, pejabat pengawas, pejabat fungsional, dan seluruh ASN perlu menghindari stereotip yang menganggap pegawai senior selalu sulit berubah atau pegawai muda selalu kurang pengalaman. Penilaian terhadap pegawai harus didasarkan pada kompetensi, integritas, perilaku, potensi, dan kontribusinya terhadap pencapaian kinerja.

Ia mengajak para pimpinan untuk menerapkan lima sikap utama dalam mengelola keberagaman generasi: memahami perbedaan sebagai kenyataan organisasi, mendengarkan sebelum menilai, menjembatani perbedaan melalui dialog terbuka, memberdayakan pegawai sesuai kompetensi dan potensinya, serta menyatukan seluruh kekuatan untuk mencapai tujuan bersama. Penerapan sikap tersebut diharapkan dapat mencegah kesalahpahaman berkembang menjadi konflik sekaligus memperkuat kerja sama antarpegawai.

Lebih lanjut, Dora berharap hasil pembelajaran dalam webinar tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi diterapkan dalam praktik kerja sehari-hari. ASN senior diharapkan memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan dan mencoba pendekatan baru. Sebaliknya, ASN yang lebih muda perlu menghargai pengalaman para senior serta menunjukkan kapasitas melalui kinerja, kedisiplinan, integritas, dan kemauan untuk terus belajar. Para pimpinan juga perlu memastikan setiap pegawai memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang dan berkontribusi.

“Kita tidak harus sama untuk bisa bekerja bersama. Generasi senior memberikan pengalaman, generasi muda membawa energi perubahan. Setiap generasi memiliki kekuatan, dan setiap kekuatan akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika dipertemukan dalam kolaborasi,” tutur Dora.

Melalui webinar ini, BKPSDMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berharap tumbuh budaya kerja yang memperkuat transfer pengetahuan, memperluas ruang inovasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kolaborasi lintas generasi bukan sekadar upaya menyelaraskan perbedaan karakter, melainkan bagian dari pengembangan kapasitas kelembagaan untuk membangun ASN Bangka Belitung yang semakin profesional, adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Webinar Seri 10 ini diikuti sebanyak 7.599 peserta yang berpartisipasi melalui kanal YouTube dan link zoom meeting.