Menjadi Guru, Pengabdian Ataukah Pekerjaan ???

Profesi guru merupakan profesi yang mulia. Sering kita dengar ungkapan Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, mendengar hal tersebut pastinya kita meyakini akan hal tersebut karena dari guru kita mendapatkan ilmu yang sangat berharga yang tidak dapat dibalas dengan apapun. Namun bertolak dari hal tersebut  guru juga manusia biasa  yang tentunya memiliki keinginan dalam mencapai kesejahteraan, maka dari itulah seorang guru terkadang tidak dapat mempertahankan idealismenya sebagai pendidik sejati.

I. Pendahuluan

Dunia pendidikan saat ini sudah jauh berbeda dengan zaman dahulu, dahulu menjadi seorang guru merupakan prestige bagi pandangan masyarakat tetapi berbeda dengan hari ini profesi guru bagaikan emas sehingga banyak orang yang berkeinginan untuk menjadi seorang guru. Mengapa demikian ?  

Pilihan menjadi seorang guru merupakan suatu pilihan yang tepat , hal ini dilihat dari waktu kerja guru yang lebih pendek dibanding  dengan pekerjaan lain . bidang tugasnya bisa dikatakan mudah dan menyenangkan. Selain itu kedudukan guru dimasyaribakat dipandang terhormat karena ilmu yang diajarkan sangatlah berharga. Dengan fenomena seperti itulah maka profesi guru sekarang menjadi incaran sebagian orang. Dari hal tersebut maka terkadang timbul  suatu pertanyaan masih layakkah ungkapan Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?  

II. Pembahasan

Sejak dahulu hingga sekarang guru menempati tempat terhormat dimasyarakat . kewibawaanlah yang menyebabkan guru dihormati sehingga masyarakat tidak meragukan figur seorang guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia. Dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat , maka dipundak guru diberikan tugas dan tanggung jawab yang berat. Dengan begitu maka sebagai seorang guru harus memiliki kepribadian yang unik. Disatu pihak guru harus ramah, sabar, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan, dan menciptakan suasana aman . akan tetapi, dilain pihak guru harus memberikan tugas, mendorong siswa untuk mencapai tujuan, mengadakan koreksi, menegur dan menilai .Seorang guru dalam mendidik perlu memahami pikiran dan perasaan peserta didiknya(Ws.Winkel, 1991: 16).

Kepribadian seorang guru seolah – olah terbagi menjadi dua bagian. Disatu pihak bersikap empati, dipihak lain bersikap kritis. Tuntutan  kepribadian guru seperti itu  harus disadari oleh para guru.

Untuk mewujudkan pribadi yang luwes tersebut, maka setiap guru perlu menyadari tugas dan posisinya sebagai pengajar, pendidik dan pelatih. Untuk melaksanakan ketiga tugas itu maka diperlukan kepribadian yang unik. Profil guru yang ideal adalah sosok yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa, panggilan hati nurani bukan karena tuntutan uang belaka, yang membatasi tugas dan tanggung jawabnya sebatas dinding sekolah.

Ungkapan Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa merupakan suatu ungkapan yang tepat untuk seorang guru. Bahkan seorang penyair bernama sjauki menciptakan suatu kata-kata mutiara untuk sang guru “ berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan , karena seorang guru hampir saja merupakan seorang Rasul”. Dari kata mutiara tersebut dapat kit lihat betapa mulianya tugas seorang guru, jadi wajarlah jika guru mendapatkan julukan yang tidak akan pernah ditemukan pada profesi. Semua julukan itu perlu dilestarikan dengan pengabdian  yang tulus ikhlas, dan dengan motivasi kerja untuk membina watak anak didik. Tetapi untuk saat ini julukan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa hanya pantas untuk sebagian kecil guru saja.

Kesulitan hidup  saat ini menjadikan pilihan menjadi pendidik lebih berat dari masa sebelumnya. Tantangan masalah ekonomi dan gaya hidup materialitas menjadikan guru seorang guru sulit untuk mempertahankan idealisme sebagai seorang guru. Idealisme seorang guru haruslah memberikan dirinya secara total bagi dunia pendidikan, hal itu merupakan keadaan yang berat ditengah  semua persoalan hidup yang harus dihadapi seorang guru. Hal tersebut merupakan sebuah tantangan bagi seorang pendidik. Guru yang berkualitas selalu mengembangkan profesionalismenya secara penuh. Dia tak akan merengek-rengek meminta diangkat sebagai pegawai negeri atau guru tetap sebab pekerjaannya telah membuktikan, kinerjanya layak dihargai. Mungkin ini salah satu alternatif yang bisa dilakukan guru untuk mengembangkan dan mempertahankan idealismenya pada masa sulit. Profesionalisme guru sebenarnya adalah sebuah paradigma yang tidak dapat ditawar – tawar lagi.

Teori Peter G Beidler, dalam buku Inspiring Teaching menyatakan 10 kriteria guru yang profesional (Beidler 1997, hlm. 3-10 ), yaitu :

  1. Guru yang profesional harus benar – benar berkeinginan untuk menjadi guru yang baik.
  2. Guru yang profesional berani mengambil resiko lalu berjuang untuk mencapainya.
  3. Guru yang profesional selalu memiliki sikap yang positif.
  4. Guru yang profesional selalu menggunakan waktunya untuk kemajuan pendidikan.
  5. Guru profesional adalah guru yang beranggapan bahwa mengajar adalah tugas utamanya.
  6. Guru yang profesional adalah guru yang bisa merubah anak didiknya menjadi lebih baik.
  7. Guru yang profesional adalah guru yang mampu membedakan antara kemampuan dan kemauan siswanya.
  8. Guru yang profesional adalah guru yang dapat memberikan motivasi untuk anak didiknya.
  9. Guru yang baik adalah guru yang bias menilai siswa sesuai dengan kemampuannya.
  10. Guru profesional adalah guru yang senantiasa dapat  aspiratif siswa.

Profesionalisme guru tidak hanya  karena faktor tuntutan dari perkembangan jaman, tetapi pada dasarnya juga merupakan suatu keharusan bagi setiap individu dalam kerangka perbaikan kualitas hidup manusia. Profesionalisme menuntut keseriusan dan kompetensi yang memadai, sehingga seseorang dianggap layak untuk melaksanakan sebuah tugas.

Visi guru adalah pelaku perubahan dan pendidik karakter. Sebagai pelaku perubahan tersebut maka perlu pemikiran dan strategi dari guru agar mampu menjadi pelaku perubahan dan pendidik karakter yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita dewasa ini. Di zaman persaingan ketat seperti sekarang, kinerja menjadi satu-satunya cara untuk mengukur mutu seorang guru. Karena itu, status pegawai negeri, swasta, tetap, atau honorer tidak terlalu relevan dikaitkan gagasan tentang profesionalisme kinerja seorang guru.

Di banyak tempat lembaga swasta yang besar dan maju, status pegawai tetap malah membuat lembaga pendidikan swasta tidak mampu mengembangkan gurunya secara profesional sebab mereka telah merasa mapan. Demikian juga yang menjadi pegawai negeri, banyak yang telah merasa nyaman sehingga lalai mengembangkan dirinya. Oleh karena itu guru harus kembali pada jati dirinya yaitu memiliki sifat-sifat tertentu, yaitu ramah, terbuka, akrab, mau mengerti dan mau belajar terus – menerus agar semakin menunjukkan jati dirinya sebagai pendidik.

Perbaikan kualitas pendidikan saat ini merupakan isu yang menarik dan senantiasa menjadi diskursus antara pemerintah sebagai institusi dan guru yang memahami dunia nyata dilapangan, serta pengawas pendidikan yang senantiasa mengusung teori. Dalam masalah ini pemerintah sangat serius dengan perubahan – perubahan dan perbaikan kurikulum dan standarisasi tenaga pendidik dan kependidikan, dan para guru  senantiasa menyuarakan profesionalisme dan penghargaannya, sementara pemerhati atau pengawas pendidikan mengusahakan pendidikan yang teoritik dan sistematis.

Dalam hal ini pemerintah dan masyarakat memberi prioritas untuk menjaga, melindungi dan menghormati profesi guru. secara khusus pemerintah memberi jaminan finansial secara minimal kepada tiap guru agar mereka dapat hidup layak dan bermartabat sebagai guru. Masalah ini hanya bisa diatasi jika pemerintah dan masyarakat memberi prioritas untuk menjaga, melindungi, dan menghormati profesi guru. Secara khusus, pemerintah harus memberi jaminan finansial secara minimal kepada tiap guru agar mereka dapat hidup layak dan bermartabat sebagai guru.

Sejauh ini, pemerintah telah memberikan suatu upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru dengan memberikan penghargaan yang sering disebut dengan sertifikasi guru yang dimaksudkan untuk memberikan penghargaan kepada guru ,terutama memberi jaminan ekonomi minimal agar para guru dapat hidup bermartabat, sehingga sehingga mereka dapat memberi pelayanan bermutu bagi masyarakat dan negara.

Sekarang kembali kepada guru itu sendiri bagaimana cara menyikapi diri sebagai pendidik yang profesional,  untuk itu guru wajib terus mengembangkan diri di era globalisasi ini, kalau tidak terus mengembangkan diri, guru bisa tertinggal dari siswanya, meskipun belum terima sertifikat profesional apalagi sudah terima sertifikat profesional dan TPP sudah diterima.

Tidak ada alasan untuk tidak sempat tetapi harus melakukan sesuatu yang sudah menjadi tuntutan bahwa pengetahuan guru harus selalu terasah dan up to date dan diharapkan semakin dapat meninggkatkan mutu pendidikan dengan penghargaan tersebut. Tetapi pada kenyataan sekarang ini berbeda dengan tujuan awalnya profesionalisme guru telah hilang dan profesi guru merupakan suatu upaya dalam memenuhi kebutuhan bukan lagi suatu pengabdian seutuhnya.

Seharusnya bukan hanya gaji guru saja yang terus ditingkatkan akan tetapi sarana dan prasarana pendidikan juga perlu dibenahi. Sehingga adanya keseimbangan antara mutu guru dan sarana dan prasarana yang ada.   

III. Penutup

Zaman memang berputar seperti roda pedati begitu juga dalam dunia pendidikan. Profesi guru sekarang bagaikan sebuah emas lagi diburu , berbeda dengan zaman dahulu profesi guru hanya dianggap sebelah mata oleh masyarakat karena gajinya yang tidak seberapa, tetapi walaupun demikian kualitas pendidikan dahulu sangatlah menjanjikan. Berbeda dengan sekarang realitas pendidikan  , para pengelola pendidikan selalu menuntut kenaikan jabatan tetapi tidak lagi memperhatikan mutu pendidikan. Hal ini merupakan PR bagi kita untuk memperbaiki mutu pendidikan.

Penulis: 
Syanti Gultom, A.Md - Dinas Koperasi, UKM
Sumber: 
BKPSDMD

Artikel

18/07/2017 | Abdul Sani, S.Pd.I - Widyaiswara Muda pada BKPSDMD Babel
09/05/2017 | Fitra Hartini, SE - Calon Peneliti Bappelitbangda Prov. Kep.
04/07/2017 | Herru Hardiyansah, S.Kom - Prakom Muda pada BKPSDMD
18/12/2017 | Wawan Setiawan, S.Si - Pranata Komputer Muda BKPSDMD