Konsep Diri

Konsep diri adalah keseluruhan pandangan seseorang tentang dirinya sendiri, yakni bagaimana seseorang melihat, menilai, dan menyikapi dirinya sendiri. Ketika seseorang memiliki konsep diri yang keliru maka orang tersebut akan sulit dalam menjalankan proses kehidupan untuk mencapai kesuksesan. Hal ini  dikarnakan permasalahan yang yang timbul tak jarang berasal dari dalam diri kita sendiri tanpa kita sadari, semakin lama permasalahan yang berasal dari dalam diri kita tidak disadari maka akan menciptakan rentetan permasalahan yang mungkin saja akan berdampak fatal bagi diri kita sendiri.

Konsep diri pada seseorang merupakan hasil dari proses belajar yang terjadi sejak kita kecil hingga dewasa, hal yang mempengaruhi konsep diri bisa berasal dari faktor lingkungan, pola asuh orang tua atau pengalaman selama proses kehidupan berlangsung. Faktor–faktor tersebut sangat memberikan damapak pada pembentukan konsep diri seseorang.  Sikap orangtua serta lingkungan akan menjadi sumber informasi bagi diri kita sendiri untuk mengetahui siapa “saya”.

Yang perlu kita ketahui bahwa konsep diri merupakan sistem operasi yang menjalankan komputer mental, hal ini lah yang akan mempengaruhi kemampuan serta kualitas berfikir seseorang. Individu yang sudah memiliki konsep diri akan masuk difikiran bahwa sadar dan mempunyai bobot pengaruh sebesar 88% terhadap level kesadaran seseorang dalam suatu saat. Ada hubungan yang sangat erat tentang konsep diri pada individu, dimana semakin baik konsep diri individu maka akan semakin mudah individu tersebut untuk mencapai keberhasil dalam akhir peroses kehidupannya, demikian pula sebaliknya apabila dalam diri individu memiliki konsep diri yang tidak baik maka akan mengalami kegagalan pada proses kehidupannya.

Pada umunya konsep diri memiliki dua bentuk yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif, berikut penjelasannya:

a. Konsep diri positif

Individu yang memiliki konsep diri positif akan cendrung lebih optimis, menunjukan rasa penuh percaya diri, dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, bahkan terhadap kegagalan yang dialami selama proses kehidupannya sekalipun. Misalnya saja seorang karyawan swasta yang selalu sukses dalam setiap bisnisnya, jenjang karir yang meningkat dengan cepat suatu ketika pada saat mengerjakan sebuah proyek ternyata gagal. Bisa jadi pada saat itu karyawan tersebut akan merasa dirinya tidak berguna dan merasa putus asa, tapi karena karyawan tersebut memiliki konsep diri yang positif dalam dirinya, maka ia akan  menganggap itu kegagalan yang biasa dalam menuju kesuksesan serta akan bertekat untuk terus mencoba dan berusaha memperbaiki atas kegagal yang pernah terjadi. Individu yang memiliki konsep diri yang positif akan selalu menghargai dirinya sendiri serta melihat apapun dari sisi positifnya untuk dilakukan demi mencapai kesuksesan dalam setiap proses kehidupannya. Konsep diri positif merupakan Kunci keberhasilan dalam hidup.

b. Konsep diri negatif

Individu yang memiliki konsep diri negatif akan senantiasa memandang dan meyakini bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, tidak menarik, tidak disukai, serta pemikiran-pemikiran negatif lainnya dalam memandang dirinya sendiri. Individu ini akan cendrung bersikap pesimistik atau mudah putus asa terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya, melihat tantangan sebagai penghalang atau ganjalan bukan melainkan sebagai kesempatan yang harus dihadapi dan ditaklukkan. Individu yang memiliki konsep diri negatif akan mudah menyerah dan berputus asa ketika menemukan sedikit kendala dalam setiap proses, akan selalu dibayang-bayangi rasa takut gagal, dan biasanya jika mengalami gagal akan menyalahkan dirinya sendiri secara berlebihan hingga orang lain.

Dalam membentuk konsep diri, ada beberapa komponen yang harus dimiliki agar terbentuk konsep diri yang utuh, 3 komponen ini terdiri dari diri ideal (self ideal), citra diri (self image), dan harga diri (self esteem). Akan kita bahas satu persatu dari 3 komponen tersebut.

1. Diri Ideal (self ideal)

Dimaksud dengan diri ideal adalah sosok seseorang yang dinilai sempurna dan dikagumi serta didambakan yang ingin ditiru untuk menjadi model diri yang ideal bagi individu. Diri ideal ini menentukan seberapa besar arah, perkembangan diri, dan pertumbuhan karakter serta kepribadian. Diri ideal ini jika kita tidak berhati-hati dalam memilih atau membentuknya secara sadar, akan membuat kita langsung menetapkan seseorang untuk menjadi contoh diri yang ideal. Contohnya seseorang yang memiliki latar belakang budaya yang lembut ternyata memilih contoh yang ideal yaitu bintang rock atau bintang filem yang notabene memiliki bentuk budaya yang berbeda.

2. Citra diri (self image)

Citra diri adalah cara kita melihat diri kita sendiri dan menilai tentang diri kita sendiri pada saat itu. Citra diri adalah “cermin diri”. Bila kita melihat diri sendiri di dalam cermin sebagai orang yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, tenang, dan mampu belajar baik, maka setiap kali kita belajar, kita akan merasa percaya diri, tenang serta mampu. Jika selalu berfikir secara positif maka kita akan selalu bersikap positif pula dalam setiap aspek kehidupan..

3. Harga diri (self esteem)

Harga diri didefinisikan seberapa tinggi kita menghargai atau suka  terhadap diri anda sendiri. Semakin tinggi rasa menyukai diri sendiri, penerimaan diri, dan rasa hormat pada diri sendiri sebagai seseorang yang berharga dan bermakna, maka semakin tinggi harga diri seseorang. Selain itu semakin merasa sebagai seseorang yang bernilai, maka akan semakin bersikap positif dan merasa bahagia.

Harga diri seseorang sngatlah berpengaruh pada semangat, antusiasme, dan motivasi diri. Harga diri seseorang adalah sangat menentukan prestasi dan keberhasilan dalam setiap proses kehidupan. Orang dengan harga diri yang tinggi memiliki kekuatan pribadi yang luar biasa besar dan akan bisa berhasil melakukan apa saja dalam hidupnya.

Adapun Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri seseorang, antara lain:

a. Pola asuh orang tua

Peran orang tua sangat berpengaruh pada pembentukan diri seseorang, sikap orang tua yang suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, tidak pernah memuji, suka marah-marah, dan lain sebagainya – dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan, atau kebodohan seorang anak. Jadi, anak menilai dirnya berdasarkan apa yang ia alami dan ia dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap baik dan positif, maka anak akan cukup merasa berharga, namun jika ia mendapat bahwa dirinya selalu salah di mata orangtuanya maka ia merasa dirinya bodoh. Salahnya pola asuh atau pendidikan ketika masih kecil, akan berakibat pada rusaknya konsep diri pada anak.

b. Kegagalan

Setiap orang pasti pernah merasakan kegagalan dalam proses kehidupannya, kegagalan yang sering dialami, sering membuat diri kita bertanya “mampukah saya?” dan kita pun memberikan kesimpulan terhadap diri kita sendiri bahwa penyebabnya adalah kelemahan diri. Kegagalan membuat seseorang merasa dirinya tidak berguna.

c. Depresi

Kondisi fisik maupun fisikis yang tidak sehat pasti mempengaruhi pembentukan konsep diri. Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatu, termasuk menilai dirinya sendiri. Segala situasi atau stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif. Ia sulit melihat dirinya “mampu”, ia juga mudah tersinggung dan mudah “termakan” oleh ucapan orang lain.

d. Kritik internal

Manusia sebagai mahluk social tentunya tak kan pernah lepas dari interaksi dengan manusia lainnya, terkadang manusia lainnya menjadi penilai akan sebuah perbuatan manusia lainnya. Sikap dalam menyikapi kritik orang lain tentunya harus dapat dikendalikan sebagai koreksi diri sendiri. Mengkritik diri sendiri memang dibutuhkan untuk menyadarkan seseorang akan perbuatan yang telah dilakukan. Kritik terhadap diri sendiri berfungsi sebagai rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan kita diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik.

Dengan beberapa faktor diatas dan macam konsep diri di atas, setiap orang tentunya akan memiliki konsep diri yang berbeda-beda, karena faktor-faktor yang didapat oleh seorang individu pasti beragam. Yang harus kita pahami, apapun faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri yang timbul pada diri kita hendaklah mengarah pada konsep diri yang positif, tetapi ketika memang ternyata konsep diri yang terbentuk adalah konsep diri negative maka kita harus berusaha dengan sadar untuk merubah konsep diri tersebut agar dapat melalui setiap proses kehidupan dengan maksimal guna mencapai kebahagiaan.

Kita sering tidak menyadari bahwa persolan bertambah rumit dengan berpikir yang tidak-tidak terhadap suatu keadaan atau terhadap diri kita sendiri. Merasa “bodoh”, “malas”, “nanti pasti hasilnya akan sama saja”, ataupun pikiran-pikiran negatif lainnya yang memicu diri kita untuk tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya “BISA” kita lakukan. Namun, dengan sifatnya yang dinamis, konsep diri dapat dirubah ke arah yang positif. Bagaimana caranya? Berikut ada beberapa langkah yang perlu diambil untuk memiliki konsep diri yang positif, antara lain:

1. Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri

Hal pertama yang harus dilakukan adalah kenalilah diri sendiri dengan baik. Dengan mengenal diri sendiri maka seseorang akan tahu kemampuan seseorang itu sendiri untuk melihat kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya. Lihatlah talenta, bakat, dan potensi diri yang dimiliki serta carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya. Dan yang tidak kalah penting, jangan abaikan pengalaman positif ataupun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Serta harus berani menerima kritik dan saran dari orang lain. bila perlu, Anda sendiri yang menanyakan kepada orang lain “bagaimana saya”, karena tidak menutup kemungkinan kita sendiri tidak mengetahui dimana kelemahan dan kekuatan diri kita sendiri.

2. Hargailah diri sendiri

“Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri kita sendiri”. Kita harus dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri dan mampu memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri kita.

3. Jangan memusuhi diri sendiri

“Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri sendiri.” Sikap memusuhi diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustasi yang dalam.

4. Berpikir positif dan rasional

“We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world” (the budda). Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jika kita merasa diri kita “bodoh”, “tidak bisa”, ya itulah diri kita. So? Kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga. “I Can Do It”.

Membahas tentang konsep diri, mari kita menyinggung juga tentang anak-anak yang sedang menempuh pendidikan disekolah. Sebagai orang tua bukankah kita sangat berharap anak kita memiliki konsep diri yang positif dan dapat diterapkan dalam proses belajarnya di sekolah, dengan harapan bahwa dengan memiliki konsep diri yang positif  dapat meningkatkan semangat belajar agar berdampak pada prestasi anak di sekolah.

Jadi, seberapa penting konsep diri dalam meningkatkan motivasi belajar? Jawabannya pastilah sangat penting, berbicara tentang konsep diri tidak pernah terlepas dari sikap percaya diri dan optimis. Percaya bahwa kita mampu melakukannya dan optimis bahwa kita akan berhasil. Coba seandainya kita yakin bahwa “Kita bodoh”, tantu saja kita malas untuk belajar. “Buat apa saya belajar, toh hasilnya akan sama saja.” Nah, dibawah ini ada beberapa tips untuk mengubah dan meningkatkan konsep diri dalam belajar. Antara lain:

1. Mematikan virus pikiran

Ubah pola pikir anak-anak kita dari yang tadinya berfikir bahwa “Saya memang bodoh, nilai saya tidak selalu baik, ini kan kembali gagal, saya bukanlah siapa-siapa” ubah semua pola fikir tersebut menjadi “Saya anak yang pintar, ini hal yang mudah dan saya yakin pasti bisa melakukannya dengan baik, saya yakin pasti berhasil” dan pikiran-pikiran positif lainnya. Biasakan anak-anak kita untuk selalu memunculkan pandangan-pandangan yang positif atas dirinya agar menjadi dorongan yang kuat untuk bisa berbuat secara maksimal dan tentunya dengan begitu akan menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi.

2. Menulis kisah sukses

Perintahkan si anak untuk menuliskan kisah suksesnya dari kecil hingga dewasa sekarang ini, contoh kisah sukses misalnya lulus SD, lulus SMP, mampu menguasai diri, aktif di sekolah, berhasil mendapatkan nilai yang sesuai dengan yang diharapakan, mendapat rangking dikelas, punya banyak teman, menang dalam pertandingan bulutangkis, membaca pusi atau pada pertandingan-pertandingan yang lainnya. Dengan menuliskan kisah suskses yang pernah diraih, secara tidak langsung akan memberikan rangsangan kepada kepada anak bahwa dalam dirinya memiliki bakat dan kemampuan untuk berhasil dan menjadi juara. Hal ini tidak harus dilakukan dalam satu watu saja, maksudnya si anak bisa menuliskan setiap hari ketika dia mendapatkan kesuksesan dan boleh dituliskan sebanyak-banyak nya.

3. Memajang simbol sukses

Memajang simbol-simbol kesuksesan yang dilihat setiap hari, selain sebagai motivasi juga dapat menjadi dorongan kepada anak agar dia menanamkan pola fikir yang positif bahwa dirinyapun mampu untuk mendapatkannya. Symbol-simbol yang dipajang selain mungkin yang sudah didapat, juga bisa symbol-simbol yang belum didapat tetapi ada keinginan untuk mendapatkannya.Contoh simbol sukses adalah trofi, sertifikat, ijazah, surat penghargaan, lencana, foto, rekaman video, dll. Barang-barang tersebut dapat diletakkan di tempat-tempat yang selalu dilihat agar menjadi sebuah pengingat bahwa semua itu pasti bisa anda raih, tentunya dengan usaha yg keras dan tak kenal putus asa.

4. Membuat afirmasi positif

Afirmasi positif adalah pernyataan positif atas diri kita yang dapat membangkitkan semangat. Afirmasi positif ini jangan hanya diucapkan saja, tapi tulislah semenarik mungkin dan tempelkan di kamar. Sehingga setiap hari dapat kita baca.

Harus positif, jangan menggunakan kata-kata “Aku tidak bodoh”, tapi “Aku Bisa, Aku pintar”, ”Aku Mampu”, ”Aku Pasti Berhasil”, dsb. Afirmasi positif yang ditulis dan diingat terus menerus akan menjadi sugesti yang baik bagi anak, apabila sejak memulai aktifitas sudah mendapatkan sugesti yang positif maka dalam menjalani harinya anak akan optimal serta menikmati proses pada hari tersebut

Pemaparan di atas dapat kita simpulkan bahwa setiap orang memiliki konsep dirinya masing-masing, konsep diri yang positif maupun konsep diri yang negatif. Konsep diri bahwasanya diperuntukkan agar individu dapat menjalankan proses kehidupan dengan baik dan secara maksimal agar mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan sesuai dengan yang diharapkan. Apapun profesi, serta posisi seseorang dalam masyarakat konsep diri positif ini juga perlu dimunculkan agar menjadi masyarakat yang dapat bersosialisasi dan diterima dengan lingkungan sekitar.

Jikalau bentuk-bentuk konsep diri negatif nampak dalam diri kita maka sebaikanya mencoba untuk dapat merubahnya dengan perlahan, karena konsep diri dalam diri seseorang tidaklah bersifat mutlak atau tetap sehingga tetap ada peluang untuk dapat merubahnya.

Penulis: 
Syanti Gultom, A.Md - Dinas Koperasi, UKM
Sumber: 
BKPSDMD

Artikel

18/07/2017 | Abdul Sani, S.Pd.I - Widyaiswara Muda pada BKPSDMD Babel
09/05/2017 | Fitra Hartini, SE - Calon Peneliti Bappelitbangda Prov. Kep.
04/07/2017 | Herru Hardiyansah, S.Kom - Prakom Muda pada BKPSDMD
18/12/2017 | Wawan Setiawan, S.Si - Pranata Komputer Muda BKPSDMD