Kesejahteraan Psikologis di Tempat Kerja

Peringatan Hari Kesehatan Mental Dunia setiap 10 Oktober, menjadi momen penting bagi setiap individu untuk meningkatkan kesadaran diri tentang pentingnya kesehatan mental bagi dirinya, sama seperti pentingnya kesehatan fisiknya. Kesehatan mental memang jarang mendapat porsi lebih karena tidak jarang gangguan kesehatan mental/ gangguan jiwa tidak menampakkan wujudnya sama seperti penyakit fisik. Walalupun tidak jarang gangguan jiwa dapat termanifestasi dalam bentuk sakit fisik yang kita sebut psikosomatis.

Dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Mental Dunia tersebut, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) mengajak kita bersama, terutama para pelaku di dunia kerja, baik pegawai, atasan dan manajemen, dan penyedia lapangan kerja untuk lebih memperhatikan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis kita di tempat kerja.

Wellbeing (kesejahteraan psikologis) di tempat kerja umumnya menjadi hal yang tidak patut dibicarakan. Terutama jika bahasannya berkaitan dengan atasan dan gaya kepemimpinan. Padahal, poin tersebut termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan mental seorang pegawai, termasuk juga kondisi dan perilaku rekan kerja. Selain itu, hal-hal berkaitan dengan perbaikan lingkungan kerja dan peninjauan beban kerja dirasakan tidak perlu dibahas karena pegawai dirasa tidak memiliki pilihan dan perlu untuk beradaptasi dengan pola yang sudah ada.

Faktor-faktor di atas umumnya dirasa harus diterima apa adanya, tidak perlu dipertanyakan walaupun dirasakan mengganggu kondisi mental (misalnya membuat tidak nyaman, stres, dan perasaan negatif lainnya). Padahal gangguan psikologis di tempat kerja secara nyata telah terbukti dapat menurunkan produktivitas hingga senilai $1 trillyun per tahun. WHO mencatat beberapa hal penting di antaranya, bekerja adalah baik untuk kesehatan mental, tetapi lingkungan kerja yang buruk dapat menyebabkan persoalan kesehatan fisik dan mental. Selain itu, pelecehan seksual yang terjadi di tempat kerja adalah hal yang paling banyak dilaporkan dan paling berpengaruh pada kondisi pegawai.

Selain mempengaruhi kehidupan seseorang di tempat kerja, faktor-faktor di atas pun tidak jarang terbawa hingga ke rumah. Masalah yang timbul di tempat kerja dan tidak ditemukan penyelesaiannya membuat seseorang stress hingga kehidupannya di rumah pun ikut terpengaruh. Pasangan dan anak terutama yang menjadi sasaran pelampiasan atas masalah yang tidak selesai di tempat kerja tadi.

Beberapa organisasi dan perusahaan menyadari pentingnya kesehatan pegawainya dengan menyediakan unit kesehatan dan tidak lupa menyediakan perangkat P3K untuk bersiaga ketika ada ganguan kesehatan ringan ataupun kecelakaan yang terjadi saat kerja. Bahkan tidak jarang perusahaan yang mengadakan pemeriksaan kesehatan rutin demi menjaga kesehatan pegawainya karena perusahaan menyadari adanya keterkaitan antara kesehatan pegawainya dengan produktivitas. Tidak jarang yang menyediakan asuransi bagi kesehatan pegawainya dan untuk penanganan resiko kecelakaan kerja. Namun, sangat jarang ditemukan adanya pemeriksaan kesehatan mental/ jiwa bagi pegawai-pegawainya atau yang menyadari resiko yang ditimbulkan sebuah pekerjaan atas kesehatan mental pegawainya.

Kesehatan mental di tempat kerja merupakan hak setiap pegawai dan menjadi kewajiban bagi pemimpin dan manajemen untuk memenuhinya. Namun, jangan pula hingga melupakan kewajibannya untuk memberikan kinerja terbaiknya agar memajukan organisasi tempatnya bekerja. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental perlu digiatkan dimulai dari diri sendiri. Terkadang kita bahkan tidak menyadari dan peduli dengan kondisi mental diri sendiri dan teman kita.

Menyadari pentingnya kesehatan mental bagi seseorang sebenarnya perlu dilaksanakan pemeriksaan mental/ psikologis secara rutin sama seperti pemeriksaan kesehatan fisik. Bila perlu didirikan pula unit kesehatan mental di setiap organisasi, tempat pegawai dapat melakukan konseling dan konsultasi, sehingga pegawai yang menemui masalah di tempat kerja dapat menyalurkan keluh kesahnya dengan tepat dan terarah agar kesehatan jiwanya tetap terjaga dengan baik.

Penulis: 
Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi - Pekerja Sosial Pertama Dinsos
Sumber: 
BKPSDMD

Artikel

04/07/2017 | Herru Hardiyansah, S.Kom - Prakom Muda pada BKPSDMD
18/12/2017 | Wawan Setiawan, S.Si - Pranata Komputer Muda BKPSDMD
18/07/2017 | Abdul Sani, S.Pd.I - Widyaiswara Muda pada BKPSDMD Babel
09/05/2017 | Fitra Hartini, SE - Calon Peneliti Bappelitbangda Prov. Kep.