Gubernur Babel Pimpin Upacara Hari Rimbawan Ke-33

PANGKALPINANG – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), H. Rustam Effendi memimpin Upacara Bendera Peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-33 Tahun 2016, yang berlangsung di Halaman Kantor Gubernur Babel, Senin (21/3/2016).

Turut serta dalam Upacara ini, Para Pejabat Eselon II, III, IV dan seluruh pagawai di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Babel. Gubernur saat membacakan sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehuatan (LHK) RI, Siri Nurbaya mengatakan, saatnya semua bahu membahu dalam mewujudkan pola pengelolaan kehutanan dan lingkungan hidup yang berkelanjutan, sejalan dengan Nawa Cita pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla,  seraya terus menerus melakukan konsolidasi dan semakin mematangkan internalisasi jati diri rimbawan, yang tidak lain adalah Sembilan nilai dasar rimbawan, yaitu Jujur, Tanggung jawab, Disiplin, Ikhlas, Visioner, Adil, Peduli, Kerjasama dan Profesional.

“Menghadapi situasi dan kondisi persoalan sumber daya alam kita, maka menjadi kebutuhan utama bagi para pemangku kepentingan untuk saling mendukung, sinergis dan bersungguh-sungguh, konsisten antara kata maupun perbuatan dalam upaya melestarikan hutan. Ditambah lagi pada awal era otonomi daerah terjadi tekanan lingkungan dan sumber daya hutan mengalami depresi yang hebat,” paparnya.

Banyak pihak, katanya, terlanjur melihat komplikasi masalah pengelolaan hutan dengan berbagai tekanan dan bermacam kepentingan yang tertuju pada kawasan hutan beserta isinya. Inilah juga merupakan tantangan yang harus mampu diurai agar kekayaan sumberdaya hutan justru dapat dimanfaatkan dengan baik, tetap memelihara kelestarian hutan dan ekosistem lingkungan.

“Tantangan yang paling pelik masih terus dihadapi, terutama adalah praktik penebangan liar, penyelundupan dan perdagangan hasil hutan illegal, kebakaran hutan dan lahan, deforestasi dan degradasi, masalah sosial, masalah tenurial, perambahan kawasan hutan, perdagangan illegal satwa yang dilindungi, dan lain-lain. Masalah-masalah tersebut masih relatif untuk secepat-cepatnya diatasi, dengan sistem data dan administrasi serta berbagai instrumen kerja yang belum optimal,” ujarnya.

Masalah lainnya, ditambahkan dia, berkenaan dengan teknologi dan hasil penelitian belum didayagunakan secara maksimal. “Belum lagi menyangkut sumberdaya manusia kita, termasuk para rimbawan yang masih kurang kokoh dalam komitmen, disiplin dan kesungguhan bekerja karena berbagai faktor seperti kapasitas, integritas dan profesionalitas. Oleh karena itu, kita berupaya untuk terus mengembangkan program kehutanan yang sesuai dengan titik berat pengorganisasian, pendayagunaan sumberdaya rimbawan dan penguatan aspek legal dan peraturan teknisnya,” tandasnya.

“Tantangan yang paling nyata adalah bagaimana peran dan fungsi kehutanan dapat dioptimalkan kembali. Saya katakan “dioptimalkan kembali”, karena nyatanya sektor kehutanan pernah dianggap memiliki peran besar dalam mendukung perekonomian negara, disamping peran konservasi lingkungan yang signifikan. Adapun permasalahan kehutanan antara lain, pemahaman dan pemaknaan yang salah tentang sistem alam, kebijakan yang tidak tepat, terutama tidak konsisten dalam 4 (empat) pilar pembangunan berkelanjutan (lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi), dan pengelolaan hutan yang tidak lestari,” urainya.

Harus diakui, sambung dia, dalam sepuluh tahun ke depan kehutanan akan tetap bergulat dengan tantangan yang masih berat terutama dalam pengendalian degradasi fungsi kawasan, perubahan iklim, legalitas perdagangan hasil hutan, penyelesaian masalah sosial, pencegahan dan penanganan kebakaran hutan, tata kelola berkelanjutan dan sebagainya.

“Disini pula kunci utama ada pada peran rimbawan yang sangat sentral dalam pembangunan kehutanan dan lingkungan hidup. Kehutanan memerlukan rimbawan yang mampu berkomunikasi dan memiliki integritas tinggi untuk membangun bangsanya. Rimbawan harus mampu menunjukkan peran fungsinya di berbagai posisi dan profesi secara nyata serta mampu menjaga dan mendayagunakan sumberdaya hutan dengan baik dan benar. Cita-cita untuk mampu menjadi pengelola hutan tropis terbaik di dunia semestinya bukan sekedar mimpi yang tidak bisa diwujudkan. Tekad untuk mewujudkannya harus kita miliki mulai dari sekarang. Inilah juga tantangan bagi para Rimbawan,” imbuhnya.

Sumber: 
BKPSDMD
Penulis: 
as/BKD Babel
Bidang Informasi: 
BKPSDMD